Penting bagi orang-orang untuk mengatakan kepada Anda tentang keberpihakan mereka: Di mana, mengapa, dan kecenderungan mereka untuk berat sebelah. Semacam pengajuan pendapat seorang anggota dalam satu kelompok. Maka, saya akan berbicara kepada anda tentang membaca, tentang betapa penting arti perpustakaan.

Saya menyarankan bahwa membaca fiksi, bahwa membaca untuk kesenangan, adalah salah satu hal penting yang seseorang bisa lakukan. Saya akan memohon dengan berapi-api kepada orang-orang untuk mengerti arti penting perpustakaan dan pustakawan. Lalu, memohon kepada mereka untuk mempertahankan kedua hal tersebut.

Saya berat sebelah, tentu saja. Saya adalah seorang penulis, lebih sering sebagai penulis fiksi. Saya menulis untuk anak-anak dan dewasa. Selama tiga puluh tahun, saya mencari nafkah melalui kata-kata, lebih sering menulis hal yang mengada-ada. Tentu saja, saya ingin agar orang-orang membaca, agar mereka membaca fiksi, agar perpustakaan dan pustakawan tetap ada untuk membantu menumbuhkan kecintaan terhadap membaca dan tempat-tempat membaca.

Jadi, saya berat sebelah sebagai seorang penulis. Tetapi saya lebih berat sebelah sebagai pembaca. Bahkan, lebih berat sebelah lagi sebagai seorang warga Inggris.

Dan saya di sini untuk membicarakan hal ini, malam ini, di bawah naungan Reading Agency; sebuah misi amal yang memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang, dengan membantu mereka untuk menjadi pembaca yang bersemangat dan percaya diri. Mereka mendukung berbagai program literasi, mendukung perpustakaan, orang-orang, dan berbagai gerakan untuk mendorong kegiatan membaca. Karena, mereka (reading agency) berkata, semuanya berubah ketika kita membaca.

Atas nama perubahan dan membaca itulah, saya hadir di sini. Saya akan berbicara tentang apa yang bisa kita lakukan dengan membaca dan apa manfaatnya.

Saya pernah berada di New York dan menghadiri seminar tentang membangun penjara pribadi–sebuah pertumbuhan industri yang pesat di Amerika. Industri penjara tersebut membutuhkan rencana pertumbuhan masa depannya–seberapa banyak sel yang mereka butuhkan? Berapa banyak tahanan yang akan ada 15 tahun dari sekarang? Mereka memprediksinya dengan mudah, menggunakan algoritma sederhana, berdasarkan pertanyaan tentang berapa persen dari anak umur 10 dan 11 tahun yang buta huruf. Dan tentu saja, termasuk mereka yang tidak bisa membaca untuk kesenangan.

Ini bukan tentang hubungan satu hal dan yang lainnya: anda tidak bisa mengatakan bahwa masyarakat yang terliterasi menihilkan tingkat kriminalitas. Tetapi, kedua hal tersebut memiliki berbagai korelasi yang nyata.

Saya pikir, beberapa di antara korelasi tersebut hadir dari sesuatu yang sangat sederhana. Orang-orang yang membaca fiksi.

Fiksi memiliki dua kegunaan. Pertama, pintu bagi kecanduan membaca. Dorongan untuk mengetahui kejadian berikutnya, keinginan membalik halaman, kebutuhan untuk melanjutkan, walaupun hal itu sulit, karena seseorang dalam masalah dan anda harus tahu bagaimana semuanya berakhir… itu adalah dorongan yang sangat nyata. Hal itu mendorong anda untuk mempelajari kosa kata baru, gagasan baru, untuk tetap melanjutkan dan menemukan bahwa membaca adalah hal yang menyenangkan. Sekali anda mempelajarinya, anda berada di jalur untuk mulai membaca segalanya.

Membaca adalah kunci. Beberapa tahun lalu, hadir kegaduhan tentang wacana bahwa kita hidup di dunia post-literasi, kemampuan untuk memahami kata-kata tertulis, entah bagaimana, menjadi sesuatu yang mubazir. Tetapi, itu sudah jauh terlewati. Kata-kata kini lebih penting dari sebelumnya. Kita menjejaki dunia dengan kata-kata, dan ketika dunia tergelincir ke media digital, kita perlu mengikuti, untuk berkomunikasi dan memahami apa yang kita baca. Orang-orang yang tidak bisa mengerti satu sama lain tidak mampu bertukar gagasan, tidak bisa berkomunikasi, dan program terjemahan kian menjauh.

Cara yang paling sederhana untuk memastikan peningkatan jumlah anak-anak melek huruf adalah mengajari mereka membaca, dan menunjukkan bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan. Secara sederhana berarti menemukan buku yang mereka sukai, memberikan akses untuk itu, dan membiarkan mereka membacanya.

Tidak ada buku yang buruk untuk anak-anak. Meskipun, sesekali ada kecenderungan di antara orang-orang dewasa untuk menunjuk, entah itu genre, entah penulis, lalu mengumumkan satu buku adalah buku yang buruk, buku-buku yang tak perlu dibaca oleh anak-anak. Saya menyaksikannya beberapa kali. Enid Blyton dianggap sebagai penulis yang buruk, juga RL Stine, dan beberapa lainnya. Komik dicela sebagai factor pendukung buta huruf.

Omong kosong. Itu adalah keangkuhan dan kebodohan. Tidak ada penulis yang jelek bagi anak-anak, bahwa anak-anak suka dan ingin membaca serta mencari tahu, karena setiap anak berbeda. Mereka bisa menemukan cerita yang mereka butuhkan, dan membawa diri mereka ke dalamnya. Ide lama tidak basi dan usang, sebab banyak cerita yang menjadi pengalaman pertama bagi mereka. Jangan menakut-nakuti anak-anak untuk membaca hanya karena anda merasa mereka membaca hal yang salah. Fiksi yang kita benci adalah rute ke buku yang mungkin kita sukai. Lagipula, setiap orang memiliki selera yang berbeda.

Pemahaman orang dewasa bisa dengan mudah menghancurkan kesenangan membaca anak-anak: menghentikan anak-anak membaca hal-hal yang mereka senangi atau memberi bacaan-bacaan yang anda sukai–bacaan layak tetapi membosankan. Abad ke-21 setara dengan cara Victorian meningkatkan literasi. Kita akan berakhir dengan generasi yang meyakini bahwa membaca itu tidak keren, buruk, dan tidak menyenangkan.

Kita butuh anak-anak kita untuk melalui jenjang membaca: apapun bacaan yang mereka nikmati akan meningkatkan mereka, anak tangga demi anak tangga, dalam dunia literasi. (Juga, jangan lakukan apa yang penulis ini lakukan ketika putrinya yang berumur 11 tahun membaca RL Stine: membawakan buku berjudul Carrie oleh Stephen King, lalu memberi nasihat bahwa kalau dia menyukai ini maka akan menyukai itu juga! Holly [putrinya] tidak membaca apapun selama masa remajanya, selain cerita-cerita aman tentang para pemukim di padang rumput, dan masih membelalakkan matanya kepada saya tiap kali nama Stephen King disebutkan).

Hal kedua yang fiksi lakukan adalah menumbuhkan empati. Ketika anda menonton TV atau film, anda menyaksikan hal-hal yang terjadi pada orang lain. Fiksi prosa adalah sesuatu yang anda ciptakan dari 26 huruf dan sekumpulan tanda baca, dan anda, anda sendiri, menggunakan imajinasi, menciptakan satu dunia beserta orang-orang di dalamnya, lalu melihat berbagai hal melalui mata orang lain. Anda kemudian merasakan banyak hal, mengunjungi tempat-tempat dan dunia yang tidak pernah anda ketahui. Anda belajar bahwa ada bagian dari diri anda di dalam diri semua orang di luar sana, tentu saja. Anda menjadi orang lain, dan ketika berputar kembali ke dunia sendiri, anda tiba-tiba saja berubah.

Empati adalah alat untuk membuat orang-orang masuk ke dalam berbagai komunitas, menjadikan kita berfungsi lebih dari sekadar individu dengan obsesi diri sendiri.

Anda juga akan menemukan sesuatu yang penting untuk menentukan jalan bagi diri sendiri di dunia ini.

Semisal: Dunia tidak semestinya seperti ini. Banyak hal yang sepatutnya berbeda.

Tahun 2007, saya berada di China, saat konferensi fiksi-ilmiah dan fantasi digelar untuk pertama kalinya dalam sejarah China. Pada satu titik, saya bertanya pada seorang pejabat, Mengapa? Bukankah Fiksi-ilmiah telah lama disetujui. Apa yang berubah?

Sederhana saja, katanya. Orang-orang Cina sangat brilian membuat hal-hal jika orang-orang lain membawakan mereka rencana-rencana. Tetapi mereka tidak berinovasi dan menciptakan. Mereka tidak berimajinasi. Jadi mereka mengirimkan delegasi ke Amerika Serikat, Apple, Microsoft, Google, lalu mereka menanyai orang-orang di sana. Mereka menemukan bahwa orang-orang tersebut, orang-orang yang menciptakan masa depan, semuanya membaca fiksi-ilmiah ketika remaja.

Fiksi mampu menunjukkan satu dunia yang berbeda. Hal itu bisa membawa anda ke tempat-tempat yang tidak pernah anda kunjungi. Sekali mengunjungi dunia lain, seperti memakan buah ajaib, anda tidak akan pernah lagi sekadar menjadi bagian dari dunia tempat anda tumbuh.

Ketidakpuasan adalah hal yang baik. Orang-orang yang tidak puas mampu memodifikasi dan mengimprovisasi dunia mereka: membuatnya lebih baik, membuatnya berbeda.

Selagi kita berada dalam pokok persoalan ini, saya akan mengatakan beberapa hal tentang eskapisme. Saya mendengar istilah itu dimaknai secara umum seolah-olah sebagai sesuatu yang buruk. Jika saja fiksi sebagai pelarian adalah candu murahan yang digunakan oleh mereka yang kacau, bodoh, dan delusional, maka satu-satunya fiksi yang layak, untuk orang dewasa maupun anak-anak, hanya fiksi yang melakukan mimesis, hanya cerminan, hanya tiruan dari hal-hal paling buruk dunia ini yang ditemukan pembaca.

Jika anda terperangkap dalam situasi yang mustahil, di tempat yang buruk, bersama orang yang anda benci, lalu seseorang datang menawarkan anda tempat pelarian sementara, tidak ada alasan untuk menolaknya, bukan? Dan seperti itulah fiksi-eskapis: fiksi yang membuka pintu, menunjukkan cahaya matahari di luar sana, menawarkan anda tempat untuk didatangi, tempat di mana anda berada di bawah kendali, bersama orang-orang yang anda inginkan (dan buku adalah tempat yang nyata, jangan ragukan itu); dan yang paling penting, selama pelarian anda, buku juga bisa memberi anda pengetahuan tentang dunia dan kesulitan anda, memberi anda senjata, juga pelindung diri: hal-hal nyata yang bisa dibawa kembali ke dalam penjara anda. Keahlian, pengetahuan, dan alat-alat yang bisa anda gunakan untuk pelarian yang sebenarnya.

Seperti yang dikatakan oleh JRR. Tolkien: hanya sipir yang menentang pelarian.

Cara lain untuk menghancurkan anak kecil yang suka membaca, tentu saja, adalah memastikan tidak ada buku di sekelilingnya dan melarang mereka ke manapun untuk membaca buku.

Saya beruntung. Saya bisa mengakses perpustakaan lokal yang bagus saat saya masih kecil. Saya memiliki orang tua yang bisa dibujuk untuk mengantar saya ke perpustakaan saat perjalanan mereka ke tempat kerja pada liburan musim panas, perpustakaan dengan pustakawan yang tidak berpikiran sempit, membebaskan seorang bocah laki-laki tanpa pendamping, hanya bermodalkan kartu katalog, untuk mengakses perpustakaan anak-anak setiap pagi, mencari buku-buku tentang hantu atau sihir atau roket-roketan, mencari buku-buku tentang vampir, detektif, para penyihir, atau tentang keajaiban-keajaiban. Lalu, ketika saya selesai membaca bagian anak-anak di perpustakaan, saya boleh memulai membaca buku-buku dewasa.

Mereka adalah pustakawan-pustakawan yang baik. Mereka menyukai buku dan senang jika buku-buku tersebut dibaca. Mereka mengajari saya cara memesan buku dari perpustakaan yang lain. Mereka tidak pernah merasa lebih tinggi dan menilai apapun bacaan saya. Tampaknya, mereka hanya menyukai ada bocah bermata besar yang suka membaca, mereka akan bersedia untuk berbincang tentang buku-buku yang saya baca, membantu saya untuk menemukan seri buku yang lain. Mereka memperlakukan saya seperti pembaca yang lain – tidak lebih dan tidak kurang – yang artinya mereka menghargai saya. Saya tidak diperlakukan seperti anak yang berusia delapan tahun sebagaimana umumnya.

Tetapi perpustakaan adalah tentang kebebasan. Kebebasan membaca, kebebasan berbagai gagasan, kebebasan berkomunikasi. Perpustakaan adalah persoalan tentang pendidikan (bukan proses yang selesai saat meninggalkan sekolah atau universitas), tentang hiburan, tentang menciptakan ruang yang aman, dan tentang akses informasi.

Saya khawatir bahwa di abad 21, orang-orang keliru memahami tentang arti dan tujuan perpustakaan. Jika kita menganggap bahwa perpustakaan sebatas tumpukan buku di rak, itu akan sangat mudah terlihat kuno dan kadaluarsa di dunia yang, meski tidak semua, buku-buku cetak telah hadir secara digital. Pendapat seperti itu kehilangan poin yang sangat mendasar.

Saya pikir itu ada hubungannya dengan sifat alami Informasi. Informasi memiliki nilai dan informasi yang benar memiliki nilai lebih. Dari sejarah manusia, kita pernah hidup dalam kekurangan informasi, dan kebutuhan akan informasi selalu menjadi hal yang penting dan selalu bernilai sesuatu: kapan bercocok-tanam, di mana menemukan berbagai hal, peta, sejarah, dan kisah-kisah–semua itu selalu bagus untuk makan dan komunitas. Informasi adalah hal yang bernilai, dan mereka yang memiliki atau membuatnya bisa mendapatkan keuntungan.

Beberapa tahun belakangan, kita berpindah dari ekonomi informasi langka ke satu kendali informasi yang melimpah. Menurut Eric Schmidt dari Google, setiap dua hari, ras manusia membuat informasi yang setara dengan yang kita lakukan dari awal peradaban sampai tahun 2003. Kira-kira sebanyak lima exobyte data per hari. Tantangannya menjadi: bukan menemukan tanaman langka yang tumbuh di gurun pasir, tetapi menemukan tanaman spesifik yang tumbuh di hutan. Kita akan membutuhkan bantuan menemukan informasi yang sebenarnya kita butuhkan.

Perpustakaan adalah tempat orang mencari informasi. Buku hanyalah petunjuk dari informasi yang serupa gunung es: mereka ada, dan perpustakaan bisa menyediakan secara bebas dan resmi dengan buku. Lebih banyak anak-anak yang meminjam buku dari perpustakaan daripada sebelumnya – semua jenis buku: cetak, digital, dan audio. Tetapi perpustakaan juga, sebagai contoh, tempat di mana orang-orang, yang mungkin tidak memiliki komputer, yang mungkin tidak memiliki koneksi internet, bisa masuk ke dunia maya tanpa membayar apapun: sangat penting ketika kita mencari dan mendaftar pekerjaan atau mencari keuntungan dari bermigrasi secara eksklusif di dunia maya. Pustakawan bisa membantu orang-orang untuk menjejaki dunia tersebut.

Saya tidak percaya bahwa semua buku akan atau harus bermigrasi ke monitor: seperti yang Douglas Adams katakan kepada saya suatu waktu, lebih dari 20 tahun sebelum Kindle muncul, buku fisik seperti hiu. Hiu adalah binatang purba: mereka sudah ada di lautan sebelum dinosaurus. Dan alasan mengapa masih ada hiu karena hiu lebih baik menjadi hiu daripada menjadi yang lainnya. Buku fisik itu kuat, sulit dihancurkan, bisa digunakan saat berendam, menggunakan tenaga surya, terasa nyaman di genggaman anda: buku-buku akan selalu baik menjadi buku dan akan selalu ada tempat yang tersedia untuk mereka. Bagian dari perpustakaan yang telah menjadi tempat anda mengakses ebook, audiobook, DVD, dan konten web.

Perpustakaan adalah tempat penyimpanan informasi dan memberikan hak akses yang sama bagi setiap orang. Termasuk informasi kesehatan. Termasuk informasi kesehatan mental. Ruang komunitas. Tempat yang aman, satu surga di dalam dunia. Tempat di mana ada pustakawan di dalamnya. Seperti apa perpustakaan di masa depan adalah sesuatu yang harus kita bayangkan saat ini.

Literasi semakin penting, di dunia teks dan surat elektronik, sebuah dunia dengan informasi yang tertulis. Kita perlu menulis dan membaca, kita membutuhkan masyarakat dunia yang bisa membaca dengan nyaman, memahami apa yang mereka baca, mengerti tentang nuansa, dan membuat diri mereka dipahami.

Perpustakaan sungguh adalah gerbang masa depan. Jadi sayang sekali, di banyak tempat di seluruh dunia, kita mengamati pemerintah setempat menutup perpustakaan sebagai cara mudah menghemat uang, tanpa menyadari bahwa mereka mencuri masa depan  untuk membayar masa kini. Mereka menutup gerbang yang seharusnya terbuka.

Berdasarkan studi baru-baru ini oleh Organisation for Economic Cooperation and Development, Inggris adalah “satu-satunya negara di mana kelompok usia lanjut memiliki kemampuan dalam literasi dan berhitung lebih baik daripada kelompok anak muda setelah faktor-faktor lain seperti gender, latar belakang sosio-ekonomi, dan tipe pekerjaan yang dilakukan.”

Atau dengan kata lain, anak-anak dan cucu-cucu kita kurang mampu membaca dan berhitung daripada kita. Mereka kurang mampu menjajaki dunia, untuk mengerti dan memecahkan masalahnya. Mereka lebih mudah dibohongi dan disesatkan, mereka akan kurang mampu mengubah dunia tempat mereka berada, kurang cakap dalam melakukan berbagai pekerjaan. Dan sebagai sebuah negara, Inggris akan jatuh terbelakang dibandingkan negara maju lainnya karena kekurangan sumber daya ahli.

Buku adalah cara kita berkomunikasi dengan orang-orang yang telah tiada. Cara kita belajar dari yang orang yang tidak lagi bersama dengan kita, kemanusiaan yang terbangun sendiri, berkembang, membuat pengetahuan bertambah dari sesuatu yang harus dipelajari kembali secara berulang-ulang.  Ada kisah yang lebih tua dari sebagian besar negara, kisah yang lebih abadi melampaui budaya dan tempat-tempat di mana pertama kali kisah-kisah tersebut diceritakan.

Saya pikir kita bertanggungjawab terhadap masa depan. Tanggung jawab dan kewajiban kepada anak-anak, kepada orang dewasa yang menjadi masa depan anak-anak itu, kepada dunia tempat mereka akan berada. Kita semua – sebagai pembaca, penulis, sebagai masyarakat – memiliki kewajiban tersebut. Saya akan mencoba dan mengeja kewajiban-kewajiban itu di sini.

Saya percaya kita memiliki kewajiban untuk menjadikan membaca sebagai sebuah kesenangan, di ruang privat maupun di tempat-tempat umum. Jika kita membaca untuk kesenangan, jika orang lain melihat kita membaca, maka kita belajar, kita melatih imajinasi. Kita menunjukkan bahwa membaca adalah hal yang baik.

Kita berkewajiban untuk terus mendukung perpustakaan. Memanfaatkan perpustakaan, mendorong orang lain mengunjungi perpustakaan, memprotes penutupan perpustakaan. Jika anda tidak menghargai perpustakaan maka anda tidak menghargai informasi atau kebudayaan atau kebijaksanaan. Anda membungkam suara-suara masa lalu sambil merusak masa depan.

Kita berkewajiban membaca lantang untuk anak-anak kita. Membacakan hal-hal yang mereka senangi, membacakan mereka cerita yang mungkin telah bosan kita ceritakan. Untuk menyuarakannya, membuatnya menarik, dan tidak berhenti membaca untuk mereka hanya karena mereka telah belajar membaca untuk diri sendiri. Gunakan waktu membaca-lantang tersebut sebagai waktu intim, waktu tanpa handphone, saat ketika distraksi dari di dunia luar disingkirkan.

Kita berkewajiban menggunakan bahasa. Mendorong diri kita: menemukan arti kata dan cara menggunakannya, untuk berkomunikasi dengan jelas, untuk menjelaskan maksud kita. Kita tidak boleh berusaha membekukan bahasa, atau berpura-pura bahwa ia adalah benda mati yang harus dipuja-puja, tetapi kita harus menggunakannya sebagai sesuatu yang hidup, yang mengalir, yang meminjam kata-kata, yang membiarkan makna dan pelafalan berubah seiring waktu.

Kita penulis – entah itu penulis untuk anak-anak atau bukan– memiliki kewajiban kepada pembaca: kewajiban untuk menulis hal-hal yang benar, khususnya yang terpenting ketika kita membuat kisah tentang orang yang tidak pernah hidup di tempat yang tidak pernah ada – untuk mengerti bahwa kebenaran bukanlah apa yang terjadi, melainkan sesuatu yang menjelaskan siapa diri kita. Fiksi adalah kebohongan yang menceritakan kebenaran. Kita memiliki kewajiban untuk tidak membuat bosan pembaca, tetapi membuat mereka terus membalik halaman.

Bagaimanapun, obat terbaik bagi pembaca yang malas adalah kisah yang membuat mereka tidak berhenti membaca. Selagi kita harus memberitahu pembaca tentang hal-hal yang benar, memberi mereka senjata, baju pelindung, dan melalui apapun jalan kebijaksanaan yang telah kita kumpulkan sedikit demi sedikit dari hidup singkat di dunia hijau ini, kita berkewajiban untuk tidak berceramah, tidak memberi kuliah, tidak memaksa moral dan menjejalkan pesan di tenggorokan pembaca seperti burung dewasa yang memberi makan bayinya belatung yang telah dikunyah; dan kita memiliki kewajiban, dalam keadaan apapun, tidak akan pernah menulis sesuatu untuk anak-anak yang kita sendiri pun tidak ingin membacanya.

Kita memiliki kewajiban untuk memahami dan mengerti bahwa sebagai penulis untuk anak-anak, kita melakukan pekerjaan yang penting, karena jika kita mengacaukannya dan menulis buku sampah yang menjauhkan anak-anak dari membaca dan buku, kita telah mengerdilkan masa depan kita dan mengurangi masa depan mereka.

Kita semua–dewasa dan anak-anak, penulis dan pembaca–memiliki kewajiban untuk merenung. Kita memiliki kewajiban untuk berimajinasi. Mudah untuk berpura-pura bahwa tidak ada orang yang bisa mengubah apapun, bahwa kita berada di dunia yang memiliki masyarakat yang besar dan individu yang hampir tidak ada apa-apanya: sebuah atom di tembok, sebutir beras di sawah. Tetapi kebenarannya adalah, individu mengubah dunia terus menerus, individu membuat masa depan, dan mereka melakukannya dengan berimajinasi bahwa hal-hal bisa saja berbeda.

Perhatikanlah sekeliling anda: saya bersungguh-sungguh. Beri jeda, dan sejenak lihatlah di sekeliling ruangan di mana anda berada. Saya akan menunjukkan sesuatu yang sangat jelas dan sepertinya terlupakan. Inilah: semua yang kita lihat, termasuk dinding-dinding, pada waktu tertentu, diimajinasikan. Seseorang memutuskan bahwa lebih mudah duduk di kursi daripada di lantai dan dia mengimajinasikan kursi. Seseorang telah mengimajinasikan sebuah cara yang membuat saya bisa berbicara dengan Anda di London sekarang tanpa seorang pun dari kita terkena hujan. Ini adalah ruangan beserta seluruh benda di dalamnya, dan semua hal lain dalam gedung ini, kota ini, hadir karena secara terus-menerus, orang-orang berimajinasi tentang berbagai hal.

Kita berkewajiban untuk membuat hal-hal indah. Tidak meninggalkan dunia menjadi lebih buruk disbanding saat pertama kali kita menjumpainya, tidak mengosongkan lautan, tidak meninggalkan berbagai masalah kita untuk generasi berikutnya. Kita berkewajiban membersihkan diri kita sendiri, dan tidak meninggalkan anak-anak kita dengan dunia yang sekilas tampak kacau, kekurangan, dan timpang.

Kita berkewajiban memberitahu para politikus apa yang kita inginkan, bersuara melawan politikus dari partai apapun yang tidak memahami peran membaca dalam membentuk masyarakat yang bermanfaat, melawan mereka yang tidak ingin bertindak untuk melestarikan dan melindungi pengetahuan serta mendorong tumbuhnya literasi. Ini bukanlah masalah partai politik. Ini adalah masalah kemanusiaan.

Seseorang pernah bertanya kepada Albert Einstein: Bagaimana kita bisa mencerdaskan anak-anak? Jawabannya sederhana dan bijaksana, “Jika anda ingin anak-anak anda menjadi cerdas,” kata Enstein, “bacakan dongeng. Jika anda ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.” Enstein memahami betul nilai dari membaca dan berimajinasi. Saya berharap kita bisa memberikan anak-anak kita sebuah dunia di mana mereka akan membaca, dibaca, berimajinasi, dan memahami.

Diterjemahkan dari transkrip pidato Neil Gaiman di Reading Agency