Penghujung tahun 1974, di Penjara wanita Qanatir, seorang perempuan menanti eksekusi mati karena membunuh seorang laki-laki. Seperti kasus pembunuhan lainnya, ia tak pernah sederhana. Apalagi jika dilakukan oleh seorang perempuan kepada laki-laki, apalagi jika dilakukan oleh seorang perempuan yang berprofesi sebagai pelacur, apalagi jika dilakukan oleh seorang perempuan pelacur di negara seperti Mesir.

Mesir, sebagaimana negara Arab lain, menjunjung tinggi budaya patriarki. Tahun 2017, Mesir adalah satu dari 4 negara yang menjadi lokasi penelitian The International Men and Gender Equality Survey (IMAGES MENA). Penelitian tersebut mengungkap bahwa mayoritas laki-laki (sampai 90% di beberapa tempat) berharap bisa mengendalikan kebebasan istri mereka, mulai dari pakaian sampai seberapa sering pasangan tersebut melakukan hubungan seks. Maka, ketika ada seorang perempuan yang membunuh seorang laki-laki (empat dekade sebelum data penelitian itu hadir), tentulah dia bukan perempuan yang biasa-biasa saja.

Pendapat serupa yang membuat seorang Nawal el-Saadawi begitu gigih untuk bertemu dan berbincang dengan perempuan tersebut. Nawal yang saat itu sedang melakukan penelitian di penjara Qanatir, harus mendapat penolakan berulangkali. Di hari-hari terakhir menjelang eksekusi mati, sang perempuan akhirnya bersedia berbagi cerita. Cerita yang kemudian abadi dalam satu novel berjudul Perempuan di Titik Nol melalui tokoh bernama Firdaus.

“Ayah tak akan pergi tidur tanpa makan malam lebih dulu, apa pun yang terjadi. Kadang-kadang apabila tak ada makanan di rurnah, kami semua akan pergi tidur dengan perut kosong. Tetapi dia selalu memperoleh makanan. Ibu akan menyembunyikan makanannya dari kami di dasar sebuah lubang tungku. la makan sendirian sedangkan kami mengamatinya saja.”

(halaman 26)

Firdaus lahir dan tumbuh di tengah keluarga miskin. Sejak kecil dia merasakan penindasan dari budaya patriarki melalui sosok ayah. Ayah yang menempati puncak hirarki dalam keluarga adalah seorang raja. Sedangkan, untuk menggambarkan istri-istri di novel ini, budak adalah kata yang sangat tepat. Mereka bukan pasangan, hanya digunakan sebagai properti tanpa nilai. Kepemilikan dalam suatu relasi, tentu bukan hal yang romantis.

Firdaus, sebagai seorang anak dalam keluarganya, adalah pelayan pengganti ibunya. Di kehidupan Firdaus selanjutnya, dia selalu bertemu dengan laki-laki yang selalu mirip dengan ayahnya. Laki-laki yang merasa berhak mendapat pelayanan perempuan melebihi dari kewajiban yang dituntaskannya. Mereka yang mungkin mencari pelampiasan atas nasib buruk. Orang-orang tanpa superioritas di wilayah tertentu akan mencari yang lebih lemah untuk ditindas. Dan yang menjadi korban adalah anak-anak dan istrinya sendiri.

Kematian orang tuanya memaksa Firdaus pindah ke kota bersama pamannya. Paman yang kerap melakukan pelecehan seksual kepadanya.

 “Galabeya saya acapkali menggelosor sehingga paha saya terbuka, tetapi tidak saya perhatikan, sampai pada suatu saat saya melihat tangan paman saya pelan-pelan bergerak dari balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya dapat merasakan tangan itu menjelajahi kaki saya sampai paha dengan gerakan yang gemetaran dan sangat berhati-hati.”

(halaman 20).

Setelah pamannya, ia dinikahkan dengan seorang laki-laki tua yang sering melakukan kekerasan dan penyiksaan fisik. Tindakan yang dianggap lumrah dalam budaya patriarki. Bahkan, pamannya berkata bahwa ia juga sering memukul istrinya.

Seperti ibunya, Firdaus sebagai seorang istri, harus melaksanakan kewajibannya: kepatuhan sempurna kepada suami.

Berbagai pengalaman yang dialami oleh Firdaus sejak kecil, memberikan kesadaran tersendiri bahwa identitasnya sebagai seorang perempuan hanyalah objek yang dapat ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang. Di sisi lain, dia juga berpikir bahwa dia pantas menerima sebuah kebebasan, tanpa kontrol dan siksaan dari laki-laki. Dari kesadaran tersebut, Firdaus memilih profesi pelacur sebagai jalan pembebasan. Sebab, dari profesi itulah dia mampu untuk memiliki kuasa atas laki-laki.

“Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak.”

(Halaman 133)

Sastra yang baik selalu merupakan cermin dari masyarakat di zamannya, begitu kata Mochtar Lubis di pengantar buku ini. Lebih dari itu, buku semacam Perempuan di Titik Nol ini, bukan hanya cermin masyarakat di zamannya, tapi juga bagi masyarakat di zaman yang berbeda dengan kondisi yang serupa.

Mesir dan Indonesia, bergandengan tangan dalam banyak hal. Termasuk dalam melanggengkan budaya patriarki. Dari Catatan Tahunan Komisi Nasional Perempuan tahun 2019, di Indonesia, terdapat 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sedikit fakta yang membuat buku Perempuan di Titik Nol ini menjadi penting untuk dibaca.

Buku tentang perempuan yang, kata Nawal, sekalipun muak dan putus asa, telah menghidupkan kata hati mereka yang seperti saya sendiri, menjadi saksi saat-saat akhir hidupnya, suatu kebutuhan untuk menantang dan melawan kekuatan tertentu yang telah merampas hak manusia untuk hidup, untuk bercinta, dan menikmati kebebasan yang nyata.