Aku dan ibu berbincang melalui telepon setiap hari. Hari ini kami bercerita panjang lebar. Durasinya 26 menit 19 detik. Ibu bercerita tentang kue spekulas yang membuat punggungnya sakit, aku bercerita tentang klien yang memuji hasil kerjaku.

Jika dipikir-pikir, kami jauh lebih akrab di telepon dibandingkan saat bertemu. Di telepon, kami bisa saling mendengarkan. Saat bertemu langsung, kami lebih sering saling menyalahkan.

Ibu menyukai suaraku di dalam telepon. Seperti suara di sandiwara radio yang sering ia dengarkan saat remaja. Katanya, saat TV belum masuk di kampungku dan bintang belum bersaing dengan lampu jalan, sandiwara radio adalah menu makan malamnya. Ia sampai hafal dialog Rama dan Sinta yang berkali-kali ia ucapkan kepadaku: “Iya kanda. Lebih baik kita mendirikan tenda di sini saja.” Jika aku ingin mendengar ceritanya, Ia selalu berhasil membelokkan arah pembicaraan sehingga aku yang harus bercerita lebih banyak.

Kemarin, Ibu bercerita tentang pelebaran jalan. Aku bercerita tentang celana yang tak lagi muat. Setiap hari, kami selalu punya topik yang berbeda di telepon. Jika ada yang sama, biasanya aku sudah hafal pertanyaannya dan Ibu sudah hafal pula jawabannya, begitu pula sebaliknya. Misalnya, saat Ibu bertanya, “sudah makan?” Aku akan menjawab, “sudah”. Saat aku bertanya “Ibu sehat?” Ibu akan menjawab, “sehat”. Persis sandiwara radio yang telah diputar berulang kali.

Aku melipat baju sambil membayangkan cerita untuk esok hari. Mungkin tentang tukang sayur yang ternyata beristri dua atau tentang tanah yang akan aku beli. Meskipun Ibu tak pernah menuntut cerita yang mutakhir, tapi aku selalu merasa tertantang untuk menceritakan sesuatu yang membuat ibu penasaran.

Aku mirip dengan Ibu. Sama-sama suka mengarang. Saat ibu bercerita tentang bisnis jilbabnya yang laris manis, artinya hanya laku beberapa atau bahkan Ibu tak punya bisnis itu. Begitu pula saat aku bercerita soal kekasih yang membawakanku makan siang, Ibu pasti tahu bahwa aku tak punya waktu makan siang, apa lagi untuk pacaran.

Sebelum menemukan formula sandiwara telepon genggam ini, kupikir aku tak akan pernah bisa untuk berlama-lama berbicara dengannya. Saat kami hidup bersama, masing-masing kami menumbuhkan rasa tidak percaya. Kami pupuk dengan banyak prasangka buruk.

Kini, setelah berjauhan dan punya sandiwara telepon, kami menjadi lebih dekat.  Masing-masing punya cerita yang menarik. Masing-masing punya kebohongan yang akan terus dilanjutkan.